EXECUTIVE SUMMARY
Yayasan PULIH merupakan Lembaga nirlaba independen yang memberikan layanan kesehatan mental dan penguatan psikososial. Yayasan PULIH berkomitmen pada pencegahan, penanganan, dan pemulihan trauma psikologis yang berperspektif Hak Asasi Manusia termasuk keadilan gender. Laporan ini merangkum jejak perjalanan selama 18 bulan, dari Januari 2025 hingga Juni 2026, yang kami beri tema “Pulih Bersama: Merawat Diri, Merawat Kemanusiaan, Merawat Masa Depan”.
Tema ini mencerminkan keyakinan yang mendasari seluruh cara kerja kami, bahwa pemulihan adalah kerja dan usaha kolektif, terjadi dalam relasi sosio ekologis dan bermakna bersama komunitas maupun secara individual. Merawat diri menjadi titik pijak, sebab pemulihan komunitas akan lebih sulit terjadi tanpa keberlanjutan energi dan kewarasan para pendamping dan penyintas itu sendiri. Dari sana, semangat merawat kemanusiaan menuntun kerja-kerja gerakan dalam advokasi dan layanan agar tetap berpijak pada penghormatan terhadap martabat setiap individu, sekaligus membuka jalan bagi merawat masa depan, yakni upaya membangun ketahanan dan harapan jangka panjang bagi individu maupun komunitas yang kami dampingi.
Indonesia menghadapi krisis Kesehatan mental yang nyata tetapi memang keraptidak terlihat. Satu dari tiga remaja, setara dengan 15,5 juta jiwa mengalami masalah kesehatan mental, tetapi hanya 2,6% yang mengakses layanan profesional (Indonesia National Adolescent Mental Health Survey, 2022). Satu dari empat perempuan pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual sepanjang hidupnya (Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional, 2024), luka psikologis yang ditinggalkan kekerasan itu kerap tidak terlihat, tidak ditangani, dan tidak terukur dalam data resmi. Di tengah ketimpangan akses inilah Yayasan PULIH hadir dengan mengisi celah yang multipihak, tidak hanya disediakan oleh sistem, tetapi juga dengan layanan dari organisasi masyarakat sipil untuk mendampingi mereka yang paling rentan dan paling jarang mendapatkan layanan: perempuan dan anak penyintas kekerasan, ataupun yang di daerah rawan pasca konflik maupun bencana, pembela HAM yang berjuang untuk orang lain tanpa ada yang menjaga mereka, serta tenaga garis depan yang mengalami kelelahan.
Selama periode 18 bulan ini, Yayasan PULIH menjalankan 13 program yang secara bersama-sama menjangkau lebih dari 13.000 penerima manfaat di lebih dari 15 kabupaten/kota, tujuh provinsi, serta melintasi batas negara. Layanan Psikologi Yayasan PULIH mencatat 3.502 sesi layanan psikologis sepanjang periode pelaporan, didukung oleh 49 hingga 51 psikolog aktif dengan mayoritas klien Adalah perempuan usia produktif.
Di tingkat komunitas, program Healing and Education through Art (HEART) Bersama Save the Children menjangkau 3.792 anak di 16 sekolah aktif di Kota Bandung dan Kabupaten Cianjur, melampaui target hingga 158%.
Program Nona Hebat, yang juga didukung oleh Save the Children, membangun lingkungan sekolah ramah anak di 30 sekolah Jakarta Timur.
Program BERANI dan PIHAK Bersama UNFPA memperkuat ekosistem pencegahan kekerasan berbasis gender di lima wilayah yaitu Serang, Garut, Brebes, Lombok Timur, dan Jember melalui pelatihan bagi fasilitator komunitas, tokoh masyarakat dan tokoh agama serta membangun jaringan rujukan layanan yang lebih terstruktur.
Program REFRESH, yang didukung Packard Foundation, hadir di Tingkat nasional serta di tiga wilayah di Papua, yaitu Jayapura, Merauke, dan Sorong, untuk memperkuat ketahanan psikologis parapembela hak asasi manusia dan pejuang lingkungan hidup dengan melibatkan sekitar 46 lembaga mitra.
Bersama Project HOPE USAID mendampingi tenaga kesehatan dan kader kesehatan di Bogor dan Sidoarjo untuk mengintegrasikan Kesehatan mental ke dalam layanan TB agar semakin komprehensif.
Program Social Justice Leaders, yang didanai Ford Foundation, menghasilkan modul dan buku saku untuk pembela HAM di Jakarta, Aceh, dan Lombok. Program Abuse Is Not Love bersama YSL Beauty menjangkau mahasiswa di kampus- kampus di Indonesia serta juga anggota komunitas.
Program MHPSS IMS mendukung jurnalis di wilayah Asia Tenggara yang bekerja dalam pengasingan karena, bagi kami, Pulih Bersama tidak mengenal batas wilayah.
Sebagai mitra swakelola dari KemenPPPA dan UNFPA, program menjangkau komunitas di Serang, Banten, untuk pencegahan kekerasan berbasis gender (KBG), termasuk Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan kekerasan berbasis gender yang difasilitasi teknologi (KBGDT) melalui pendekatan gender transformatif untuk mendorong perubahan norma gender yang merugikan dan membahayakan, dan literasi digital; penguatan kepemimpinan kelompok perempuan di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, untuk pencegahan dan penanganan KBG di komunitas; serta memperkuat system pencegahan dan penanganan kekerasan berbasis gender terhadap perempuan dan anak dalam penanggulangan bencana hidrometeorologi di Sumatera Barat dan Sumatera Utara.
Semua capaian ini tidak berdiri sendiri. Yayasan PULIH bekerja bersama lebih dari 59 organisasi masyarakat sipil di tingkat lokal dan nasional, bersama berbagai donor dan mitra internasional, Save the Children, UNFPA, Packard Foundation, Ford Foundation, USAID, YSL Beauty, International Media Support (IMS) Denmark, Institut Français Indonésie, Yayasan IPAS, dan PTPN IV. Di tingkat pemerintah, koordinasi dijalin dengan KemenPPPA, Kementerian Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas DP3A, dan UPTD PPA di berbagai daerah. Seluruh program menghasilkan produk pengetahuan yang dapat direplikasi, seperti panduan pelatihan, manual diskusi komunitas, buku saku pembela HAM, modul fasilitator, laporan program, serta konten kampanye publik yang disebarluaskan melalui media sosial dan diskusi langsung.
Periode ini juga menandai babak baru dalam pertumbuhan kelembagaan Yayasan PULIH. Pada Februari 2026, seluruh unsur pembina, pengawas, pengurus dan pelaksana, berkumpul bersama untuk merumuskan Rencana Strategis 2026-2028 yang memuat visi yang diperbarui, empat misi, tujuh nilai dan lima program strategis sebagai kompas bersama. Penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) organisasi dimulai, sistem manajemen pengetahuan dibangun secara institusional.
Seluruh proses tersebut merupakan wujud komitmen untuk terus merawat diri, merawat lembaga, dan merawat gerakan. Komitmen ini mulai diinternalisasikan melalui retreat staf sebagai salah satu upaya mewujudkan ruang aman dan ruang pulih dimulai dari insan Yayasan PULIH sendiri.
Di balik seluruh angka capaian tersebut, terdapat perubahan yang tidak sepenuhnya dapat diukur melalui angka. Melalui laporan ini, kami ingin membagikan pembelajaran strategis serta berbagai cerita perubahan baik yang terjadi pada individu, komunitas dan organisasi. Ke depan, Yayasan PULIH memperluas layanan berbasis teknologi, memperkuat kapasitas ekosistem lokal, dan akan menyelenggarakan Festival Pengetahuan di 2027 sebagai tonggak 25 tahun PULIH berkarya. Kami percaya, dan akan terus membuktikannya, bahwa pemulihan hanya bermakna bila dilakukan bersama.