

Tuberkulosis (TB) selain berdampak pada kondisi fisik pasien, juga memiliki implikasi signifikan terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan psikososial. Namun, terdapat layanan yang signifikan yaitu layanan TB di tingkat dasar masih belum secara sistematis mengintegrasikan dukungan kesehatan mental dan psikososial. Untuk itu, Yayasan PULIH melalui kemitraan dengan project HOPE mengembangkan pendekatan berbasis Mental Health and Psychosocial Support (MHPSS) untuk memperkuat layanan TB. Project ini melakukan intervensi difokuskan pada peningkatan kapasitas aktor layanan dan pengembangan perangkat teknis yang mendukung integrasi TB dan kesehatan jiwa.
Project HOPE bersama Yayasan PULIH yang dimulai tahun 2025 berfokus pada konsolidasi hasil implementasi dan refleksi dampak awal dari intervensi penguatan kapasitas dukungan kesehatan mental dan psikososial. Program ini dirancang untuk mendukung integrasi layanan Tuberkulosis dan Kesehatan Jiwa di tingkat layanan primer, pada khususnya di Kabupaten Bogor dan Sidoarjo.
Secara khusus, program ini beberapa tujuan khusus yaitu:
- Meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan, kader, dan relawan organisasi masyarakat sipil dalam memberikan dukungan kesehatan mental dan psikososial kepada penyintas TB.
- Mengembangkan produk pengetahuan sebagai rujukan teknis integrasi TB dan kesehatan mental di fasilitas pelayanan kesehatan.
- Mendorong penerapan praktik layanan yang berpusat pada penyintas/pasien (person-centred care) melalui pendekatan holistik dan berperspektif kesehatan mental.
Implementasi Program
Dalam implementasinya, Project HOPE menggunakan beberapa pendekatan yang dirancang untuk memastikan bahwa intervensi tidak hanya berhenti pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga mendorong perubahan praktik layanan dengan berkelanjutan. Pendekatan tersebut antara lain:
- Penguatan Kapasitas melalui pelatihan DKJPS bagi tenaga kesehatan, kader, dan relawan untuk meningkatkan kompetensi dalam memberikan dukungan psikososial kepada penyintas TB.
- Supportive Supervision sebagai mekanisme pendampingan dan pembelajaran berkelanjutan.
- Pengembangan Produk Pengetahuan berbasis kebutuhan lapangan untuk mendukung standardisasi dan keberlanjutan integrasi layanan TB dan kesehatan mental.
Dampak yang Diharapkan
Project HOPE berkontribusi pada peningkatan kualitas layanan TB melalui integrasi DKJPS ke dalam praktik pelayanan sehari-hari. Pendekatan ini diharapkan tidak hanya menunjukkan peningkatan kapasitas, tetapi memperkuat pengalaman pasien selama menjalani pengobatan.
Intervensi yang dilakukan oleh project ini diharapkan dapat membawa dampak awal, antara lain:
- Perubahan Praktik Layanan, melalui komunikasi yang menjadi lebih empatik dan berorientasi pada kebutuhan pasien, serta memperhatikan kebutuhan psikososial.
- Peningkatan Kepercayaan Pasien, sehingga ODTB menunjukkan keterbukaan yang lebih tinggi dalam interaksi layanan.
- Kapasitas Lokal yang Bertahan, di mana pengetahuan dan keterampilan tetap digunakan meskipun program telah berakhir.
- Tersedianya rujukan teknis, berupa Panduan supportive supervision siap digunakan untuk penguatan layanan.
Pembelajaran Strategis Program
Program Project HOPE- Yayasan PULIH menunjukkan bahwa supportive supervision merupakan pendekatan yang efektif dalam mendorong perubahan praktik layanan. Terutama saat dilakukan secara berkelanjutan dan kontekstual. Pendekatan ini memungkinkan tenaga kesehatan tidak hanya memahami konsep tetapi juga menginternalisasikan keterampilan komunikasi empatik dan dukungan psikologis dalam berinteraksi dengan pasien. integrasi kesehatan jiwa ke dalam layanan TB terbukti meningkatkan kualitas relasi terapeutik, serta mendorong keterlibatan dan kepatuhan pasien dalam pengobatan.
Namun, implementasi program juga mengungkap tantangan penting, termasuk tingginya beban kerja tenaga kesehatan yang berpotensi membatasi konsistensi penerapan praktik baru di lapangan. Ke depan, diperlukan upaya untuk mengarusutamakan pendekatan TB Kesehatan Mental dalam kebijakan nasional, mereplikasi dan memperluas penggunaan produk pengetahuan yang telah dikembangkan, serta memperkuat mekanisme supportive supervision sebagai bagian dari sistem layanan kesehatan yang terinstitusionalisasi.
