Perkembangan dunia digital menghadirkan peluang besar bagi anak-anak dan remaja, tetapi di sisi lain juga membuka risiko baru yang kompleks. Dari paparan konten berbahaya, perundungan siber, eksploitasi seksual daring, hingga kekerasan berbasis digital lainnya. Di tengah meningkatnya penggunaan internet di kalangan anak dan remaja Indonesia, sistem perlindungan anak belum sepenuhnya siap merespons tantangan ini secara terpadu.
Save The Children Indonesia bersama Yayasan PULIH turut memberikan perhatian terhadap ruang aman anak di dunia digital dan bagaimana hubungannya dengan kesehatan mental. Untuk itu, Save the Children bersama Yayasan PULIH mengembangkan Program First Click untuk memperkuat perlindungan anak di ruang digital. Program ini didasarkan pada keyakinan bahwa mengintegrasikan pendekatan Mental Health and Psychosocial Support (MHPSS) ke dalam perlindungan anak sangat penting untuk mengatasi tantangan kompleks yang dihadapi anak-anak di era digital secara efektif.
Program berdurasi 2 tahun ini dilaksanakan pada periode 2025, berfokus pada pengembangan dan uji coba lima modul pembelajaran terpadu yang ditujukan kepada anak, remaja, orang tua, dan pengada layanan perlindungan anak di seluruh Indonesia.
Implementasi Program
Program First Click diimplementasikan melalui pendekatan konsultatif dan partisipatif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Yayasan PULIH berperan sebagai konsultan dalam pengembangan dan integrasi komponen MHPSS/DKJPS ke dalam lima modul yang telah ada, bekerja sama erat dengan Save the Children Indonesia . Yayasan PULIH melaksanakan Program First Click melalui serangkaian kegiatan yang dirancang secara bertahap, mulai dari pertemuan konsultatif hingga pelaksanaan Training of Trainers (TOT) dan monitoring lapangan.
Pendekatan Program
Program First Click menerapkan pendekatan berlapis yang mengintegrasikan perlindungan anak di ruang digital dengan Mental Health and Psychosocial Support (MHPSS). Pendekatan ini memperkuat kapasitas pada tingkat kebijakan, keluarga, komunitas, hingga penyedia layanan agar mampu merespons tantangan perlindungan anak secara lebih komprehensif.
- Penguatan Sistem dan Regulasi
Mendorong partisipasi anak secara bermakna dalam advokasi kebijakan perlindungan anak digital. Kegiatannya meliputi advokasi regulasi perlindungan anak digital, keterlibatan anak dalam proses kebijakan.
- Dukungan Keluarga dan Komunitas
Memperkuat kapasitas orang tua dan komunitas dalam mendampingi anak di dunia digital. Kegiatannya meliputi penyusunan Modul Pengasuhan Anak di Dunia Digital, Training of Trainers (TOT) untuk guru, komite sekolah, dan RPTRA.
- Dukungan Non-spesialis yang terstruktur
Peningkatan kompetensi digital dan ketahanan mental anak/remaja melalui fasilitator terlatih. Kegiatannya meliputi penyusunan Modul Kompetensi Digital untuk anak SMP, pelatihan pilot di sekolah, monitoring implementasi per sesi.
- Layanan Pengada dan Spesialis
Peningkatan kapasitas penyedia layanan perlindungan anak dalam menangani kasus digital secara holistik. Kegiatannya meliputi penyusunan Modul Perlindungan Anak Digital Child Safeguarding (CSG), Modul Keselamatan Anak Online Child Sexual Exploitation and Abuse (OCSEA), Modul Manajemen Kasus dengan integrasi DKJPS di setiap modul.
Dampak yang Diharapkan
Perubahan yang disasar Program First Click tidak hanya pada tersedianya modul, tetapi juga transformasi nyata dalam kapasitas sistem perlindungan anak dan ketahanan digital generasi muda Indonesia.
Pembelajaran Strategis Program
Program First Click menghasilkan pembelajaran strategis dari proses konsultasi, pengembangan modul dan pelaksanaan Training of Trainers (ToT) di lapangan. Pembelajaran tersebut adalah:
- Integrasi DKJPS bukan pelengkap, tetapi inti perlindungan anak digital
Pendekatan yang hanya berfokus pada aspek teknis atau hukum tidak cukup. Program First Click membuktikan bahwa dimensi kesehatan mental harus menjadi bagian integral dari setiap upaya pencegahan, penanganan, dan pendampingan anak di dunia digital.
- Konsultasi dengan banyak pihak menghasilkan modul yang relevan dan kontekstual.
Serangkaian pertemuan konsultatif dengan berbagai pemangku kepentingan termasuk dengan kelompok anak, sebelum penyusunan draft memastikan bahwa modul yang dikembangkan mencerminkan kebutuhan nyata di lapangan, bukan asumsi dari meja kerja. Pendekatan partisipatif ini menghasilkan materi yang lebih adaptif terhadap tantangan yang dihadapi anak, keluarga, sekolah, dan penyedia layanan.
- Pendekatan ToT memperluas jangkauan dampak yang berkelanjutan.
Dengan melatih trainer guru, komite sekolah, forum anak, dan RPTRA, program tidak berhenti pada satu siklus pelatihan. Para trainer ini menjadi agen perubahan yang dapat terus menyebarluaskan pendekatan perlindungan anak digital berbasis DKJPS.
- Pendekatan lintas sasaran memperluas ekosistem perlindungan
Program menyasar anak, orang tua, dan pengada layanan secara bersamaan mendukung terbentuknya ekosistem perlindungan digital yang kohesif, di mana setiap aktor saling menopang.
- Monitoring implementasi adalah bagian dari penjaminan kualitas modul.
Monitoring setiap sesi yang dilaksanakan di sekolah memungkinkan perbaikan berbasis data sebelum finalisasi modul. Umpan balik dari peserta ToT dan sekolah pilot menjadi masukan krusial bagi kualitas produk akhir.
- Kemitraan lembaga profesional membuka replikas nasional
Kolaborasi antara Yayasan PULIH dan Save the Children Indonesia memastikan pendekatan berbasis bukti yang dapat direplikasi di konteks lain, membuka jalan bagi skala dampak yang lebih luas di tingkat nasional.
